cs@webpraktis.com +62 812 126 207 00 (Customer Care) +62 818 068 157 93 (Pemesanan)

Blog Detail Cermat Mengolah Merek agar Tidak Mati

Cermat Mengolah Merek agar Tidak Mati

Sebuah merek dan produk pada hakikatnya memiliki masa hidup atau life circle. Ada masa dimana nanti merek atau produk itu bisa mati. Tapi hal tersebut bisa dihindari dengan andai saja para pemilik waralaba bisa kembali menghidupkan produk atau merek tersebut dengan cara revitalisasi. Revitalisasi bisa berupa inovasi ataupun dengan cara yang lain.

Sejalan dengan semakin matang dan terfragmantasinya pasar membuat terjadinya semacam evolusi dari pasar masal. Daya beda atau yang disebut diferensiasi terbentuk oleh adanya kreativitas pemasar dalam melakukan inovasi serta untuk dapat menangkap selera pasar.

Ketika melakukan inovasi merek Anda di serap dengan baik oleh konsumen jika berhasil mendapatkan nilai lebih dari produk yang digantikan dengan sedikit mungkin merubah perilaku atau nilai yang telah dianut.

Nilai lebih atau manfaat yang ditawarkan produk baru tersebut jangan bersifat objektif , tapi merupakan keunggulan yang relative serta dapat dirasakan oleh konsumen. Bila kita ingin merubah perilaku konsumen kita juga harus meyakinkan produk yang baru tersebut bermanfaat.


Ada lima karakteristik yang diperlukan oleh produk baru sebagai indikator keberhasilan produk, yaitu:

1. Keunggulan relatif. Produk yang baru yang dibandingkan dengan produk yang digantikan tapi bukan dengan kriteria yang objektif, melainkan keunggulan relatif yang dilihat di mata pelanggan.

2. Kesesuaian dengan nilai yang telah dianut oleh pelanggan.

3. Kompleksitas, semakin sulit dimengerti semakin sulit juga diterima.

4. Kemungkinan untuk dicoba, seperti pemberian sampel.

5. Sejauh mana produk tersebut bisa dilihat oleh konsumen.


Sedangkan berikut ini adalah beberapa alasan sebuah produk bisa gagal dipasaran;

1. Penempatan atau biasa disebut positioning yang salah.

2. Ketidakpuasan terhadap suatu produk, yaitu kegagalan dalam memenuhi dan melebihi harapan konsumen serta melakukan penawaran yang kompetitif.

3. Kesadaran akan produk yang baru.

4. Kurangnya promosi serta lemahnya distribusi produk tersebut.

5. Komunikasi yang kurang mengenai produk-produk yang baru.


Jika kita mau merubah kebiasaan konsumen untuk bisa menggunakan produk terbaru kita, komunikasi one step flow masih dirasakan efektif untuk produk-produk inovatif yang bertujuan merangsang pemberian implusif.

Diakui inovasi memang mengandung risiko, tapi pengambilan risiko merupakan esensi dari semangat entrepreneurship yang menjadikan bisnis kita besar dan bertahan di situasi hypercompetitive


Artikel Terkait


Komentar


  • Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar